Kamis, 01 April 2010

BUNGA SAKURA UNTUK SAKURA PART 10 [novel gagal gw]

Ratu Cecillia tersenyum “Terima kasih, saya kira kalian akan menculik anak saya dan membawanya ke tempat kalian.”
“Ratu, kami bukan berasal dari Benua Gondwana. Kami berasal dari sesuatu tempat yang jauh.” Jelas Sakura.
Ratu Cecillia mulai tenang. Ia membubarkan barisan tentara di depan gerbang istana dan mengajak Sakura dan Kevin untuk makan malam di istana tersebut.
Hidangan yang menggugah selera mulai menambah nafsu makan Sakura dan Kevin yang sedari tadi belum makan. Pelayan menatanya dengan sangat rapi. Ratu Cecillia duduk di tempat keistimewaan.
Mari makan,” Ratu Cecillia mengijinkan. Sakura dan Kevin mulai makan makanan yang di hidangkan. Tetapi sebelum di makan, Sakura dan Kevin tentunya harus berdoa dulu.
Ratu Cecillia dan Syarin makan dengan sangat rapih. Beda sekali dengan Sakura dan Kevin dengan cara makannya yang tergolong langka –hehehe...-.
Seusai jamuan makan, Ratu Cecillia menunjukkan kamar yang akan di tempati Sakura dan Kevin. Jangan pikir yang macam-macam loh, kamarnya berbeda satu sama lain. Sakura sudah memasuki kamar barunya. Ia langsung memasuki pintu kamar dan melambaikan tangan ke arah Syarin yang mengantarinya sampai di depan pintu kamar.
Di tutupnya pintu kamar oleh Syarin. Sakura langsung menuju ke jendela dekat tempat tidurnya. Dekor kamarnya benar-benar terlihat kuno. Dimulai dari tempat tidur yang mirip seperti zaman kerajaan Belanda, Temboknya yang berupa batu bata dan dihiasi bunga-bunga di bagian atas plafonnya, hingga bentuk jendela yang setengah oval.
Di bukanya jendela tersebut sehingga angin malam berhembus sepoi ke arah wajahnya. Angin menerpa rambutnya yang panjang dan tergerai. Ia melihat sekitar. Penerangan hanyalah menggunakan lilin dan sejenisnya. Tidak ada listrik di sini. Sebenarnya, apakah aku benar-benar ada di dunia dan alam yang berbeda atau aku hanya bermimpi saja? Batin sakura bertanya.
Diserbunya tempat tidur yang siap untuk ditiduri Sakura. Diaturnya posisi untuk tidur. Aku harap, semua kejadian ini dapat berakhir dengan cepat. Kata Sakura di dalam hati.

###

Udara segar tercium dari hembusan angin yang melewati jendela Sakura yang tadi malam lupa di tutup. Badan Sakura menjadi menggigil kedinginan. Ia pun terbangun dan mencoba untuk mengumpulkan nyawanya yang belum kembali. Suasana sekitar sudah cerah. Suara kicauan burung terdengar sangat nyaring dan enak didengar.
Keadaannya mirip seperti di desa. Mungkin karena belum ada polusi sama sekali. Sakura jalan menuju pintu –yang sepertinya itu- kamar mandi. Dan itu memang kamar mandi. Di masukinya ruangan tersebut dan berbilaslah dia.
Ketika sudah selesai acara berbilas-bilas, Sakura turun ke lantai bawah. Di ciumnya aroma makanan yang khas sekali.
Sakura bertemu Kevin ketika di perjalanan menuju meja makan. Seperti biasa, mereka tak bisa akur pasti selalu ada yang diributin.
Ketika acara makan sudah selesai, mereka di ajak oleh Syarin untuk keliling-keliling kota. Sudah tentu ada izin dari Ratu Cecillia, Bundanya itu. Kalau tidak nanti Ratu akan cemas seperti saat Syarin menghilang dan mengajak Sakura dan Kevin yang waktu itu masih dinamakan ‘buronan’.
Suasana kota Geufinia sangatlah tentram. Sakura dan Kevin diajak oleh Syarin untuk pergi keliling kota. Sebenarnya mereka ogah untuk jalan berduaan, yaah walaupun itu ditemani oleh Syarin.
Semua orang terlihat ramah. Syarin mengajak Sakura dan Kevin ke taman kota. Suasananya sejuk, indah, dan masih dipenuhi oleh taman bunga dimana-mana. Berbeda sekali dengan suasana di kota Jakarta.
Syarin meninggalkan mereka berdua di bangku taman. Ia pergi menuju air mancur yang berada di dekat taman dan memainkannya. Mereka duduk terpisah, seperti biasa mereka gak bisa akur sama sekali. Yaah, mungkin di saat-saat tertentu.
“Kev,”
“Hmmm, kenapa?”
“Gimana cara kita balik ke dunia kita lagi?
I dont know, ask to her.” Kevin menunjuk kearah Syarin yang sedang sibuk main air mancur yang ada di tengah taman.
“Tapi kan...” Sakura berfikir sejenak, “Berapa lama kita akan di sini?”
“Entahlah, mungkin bertahun-tahun”
“HAH? NGACO! Kalau gitu kita di sini terus? Gitu?” Sakura mengarahkan tubuhnya kearah Kevin.
“Ya... nggak juga sih, tapikan gue gak tau kapan kita bakal balik ke real life kita.”
Sakura menghela nafas. Ia menyenderkan tubuhnya ke kursi taman. Ditundukkan wajahnya dan sekali lagi Sakura menghela nafas. Kevin menghampiri Sakura dan duduk di sampingnya. Ia menatap Sakura dengan wajah sama-sama kecewa. Kevin menepuk bahu Sakura dengan perlahan. “Gue tau perasaan loe. Gue juga merasakan hal yang sama kayak loe.”
Sakura menatap Kevin. “Sejak kapan loe jadi lembut sama gue kayak begini? Tumben? Biasanya ngejek gue ‘Mak Lampir’ karena saking cerewetnya?”
Alis Kevin mengkerut, “Kapan gue baik sama loe? Perasaan gak pernah deh...”
“Nih buktinya,” Sakura menunjuk kearah tangan Kevin yang masih nempel ke bahu Sakura. Kevin melepaskan tangannya dari bahu Sakura, tangannya menggaruk-garuk kepalanya yang nggak gatal sama sekali. Matanya tidak berani menatap mata Sakura yang sekarang dipenuhi dengan keheranan.
Mulutnya mulai terbuka, tapi tak ada sepatah katapun yang diucapkannya. Setiap kata yang ingin Kevin ucapkan pasti tidak jadi dikeluarkan. Itu tandanya...
“Vin, loe salting –salah tingkah- di depan gue?”
Mata Kevin yang tadinya tak terarah melihat kearah mana akhirnya berhenti tepat memandang wajah Sakura. Suasana sempat hening sejenak.
“Kata siapa? Ngaco loe! Gue gak salting kok, cuma...” Kevin menghentikan ucapannya.
“Cuma apa?”
“Yaahh,” Kevin mengangkat bahunya “Cuma iseng aja kok!”
“Bener cuma iseng doang? Atau loe udah tobat musuhan sama gue? Gitu?” Tatapan Sakura ke Kevin makin tajam. Ia mulai menginterograsi Kevin sehingga membuat Kevin terpojok.
“Yee! Kata siapa? Kapan gue bilang ‘Damai’ sama loe! Ogah! Gak sudi tauk!”
“Ooooh... Gue kirain loe udah tobat. Berarti kalau loe nyerah sama gue, gue yang menang! Hehehe...”
Ogah! Im never quit! Whatever loe mau ngomong apa yang penting gue gak bakal nyerah sama loe! Mending gue nyebur ke kolam deh daripada ngaku kalah sama loe!”
Sakura tertawa sinis. “Oke...oke..., kalau gitu jika loe yang ngajak damai ke gue, loe musti, kudu, wajib, harus nyebur ke kolam sampai kehabisan nafas.”
Kevin terkejut “Lah? gue mati dong! Harapan gue buat dapat istri cantik plus kaya raya pupus donk karena janji kayak gini?”
“Ya gak nyampe mati lah! Paling, pingsan paling banter!”
Kevin berfikir. Sakura mulai tertawa sinis sendiri. “Tapi kalau gue pingsan, loe yang kasih nafas buatan buat gue ya! Habisnya gue belum pernah ngerasa ciuman bareng musuh gue sih!”
“Uhuk! Iiih, ogah banget deh gue harus kasih CPR sama loe! Gue juga ogah ngasih ciuman pertama gue ke loe!”
“Jadi...” suasana hening sejenak “Loe belum pernah ciuman?”
“Ya belum lah! emangnya kayak loe! Palingan loe udah ngelakuinnya berpuluh puluh kali kan? Buktinya mantan loe udah lebih dari 20an kan?”
“Yee! Emangnya gue cowok murahan? Gampang ngasih ciuman gue ke cewek-cewek gue?”
“Jadi loe senasib sama gue?”
“Sejenis lah,”
“Serius?”
“Ya... gitu deh...”
Sakura tertawa geli, “Hahaha, masa playboy cap kupluk gak pernah ciuman sih?”
“Yee! Masih mending belum pernah ciuman, daripada belum pernah jadian kayak loe? Pantas saja gak ada yang mau pacaran sama loe! Habisnya loe galak kayak ibu-ibu lagi sensi! Hehehe!”
“Apa loe bilang? Gue pernah pacaran, TAUK!! Dan gue itu GAK GALAK!”
“Kalo gak galak, itu apa namanya?”
“Hanya menasehati saja!”
“Nasehat kok kejam kayak gitu? Pantas saja orang yang mendengarnya pasti rambutnya pada diri semua!” Kevin mulai tertawa ngakak.
“APA? Ngajak berantem loe sama gue?”
“Ayo siapa takut!”
“Dasar sapu ijuk! Playboy cap kupluk! Jelek, tengil, oon, plus aneh bin-atang!”
“Ngaca dong mbak! Liat diri loe! Kayak loe nggak aja.”
“Emang gak!”
Syarin yang tadinya masih asyik memainkan air nengok ke arah Sakura dan Kevin yang sibuk berantem adu bacot. Syarin menghampiri Sakura dan Kevin dengan cepatnya. “Kak Sakura, Kak Kevin! Jangan berantem!” Syarin berusaha memisahkan Sakura dan Kevin. Tapi teguran Syarin gak ampuh bagi mereka. Berkali-kali Syarin mencoba tuk memisahkan mereka tapi tetap gak berhasil juga. Hingga cara yang paling ampuh-pun dikeluarkan. Yaitu, ‘berteriak’.
“STOP!! AKU MOHON KAKAK STOOOPP!!”
Serentak Sakura dan Kevin menatap ke arah Syarin. Alis mereka mengkerut. “UDAH DEH! ANAK KECIL GAK USAH IKUT CAMPUR!!” Sakura dan Kevin serentak juga mengatakannya. Syarin kaget. Matanya mulai berkaca-kaca. Sakura dan Kevin masih saja adu bacot. Dan akhirnya, Syarin mulai menangis kencang di taman itu.
Sakura dan Kevin kelabakan dan berhenti berkelahi. Walau mereka sudah berhenti berkelahi tapi, Syarin tetap menangis kencang. Sampai-sampai semua pengunjung taman itu melihat mereka.

###

Matahari mulai terbenam. Senyuman yang lebar terpancar di wajah Syarin. Sambil memakan ice cream yang dibeli patungan sama Sakura dan Kevin membuatnya reda dan tidak menangis lagi. Tangan kiri Syarin di gandeng oleh Kevin. Sakura bisa agak terbebas dari rengekan Syarin. “Rin, pulang yuk!” Sakura mulai membuka percakapan.
“Ayo! Lagipula hari sudah mulai malam nih!”
Sakura dan Kevin menghela nafas. Mungkin karena susahnya menenangkan Syarin yang tadi nangis tak terkendali.
Tiba-tiba terdengar keramaian dari arah belakang mereka. Suara derap kaki terdengar semakin kencang ke arah mereka. Tiba-tiba bahu Sakura tersenggol oleh seorang cowok yang sepertinya di kejar-kejar oleh segerombolan orang di belakang mereka. Cowok itu jatuh tersungkur. Sakura dan Kevin terkejut melihat wajah cowok itu.
Cowok itu memandang Sakura dan Kevin dengan ekspresi yang sama. Serempak Sakura dan Kevin memanggil nama cowok itu, “Jason?”
“Kakak? Dan Kak Kevin?” Jason langsung berdiri tegap. Ia tak percaya dapat bertemu dengan kakak dan sahabatnya sekarang ini. Jason melirik ke arah belakang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar